Sabtu, 07 Juli 2018

100 Hari Meninggalnya Siwonah

Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia
(Rhoma Irama)
Dari kiri-kanan: Roni, Siwonah, Aku, Zam

Hari ini, 8 Juli 2018 akan menjadi hari ke 100 atas kematianmu. Kuburanmu terpisah satu kuburan orang lain dengan bapak ku, adikmu yang telah meninggal lebih dulu pada 2007 lalu. Tepatnya sebelah kirimu berkumpul dengan kakak dan ponakanmu, Misiyem dan Yasin. Hidup harus terus berjalan. Berhenti pada penyesalan hanya menjadikan kami yang kau tinggalkan tidak berguna sambil berucap seandainya... seandainya... dan seandainya. Kini kau sudah kembali kepada sang pencipta. Baik-baik di sana. Salam damai dan gaul dari ponakanmu yang belum bisa memberikan sejumlah uang untuk kau beli jajan semasa kau hidup. Tertawalah dengan lepas, agar kami bisa mendengarnya dengan jelas saat mimpi dalam tidur dan terjaga.
Biyanah namamu. Aku dan adik-adik memanggilmu Siwonah. Setiap namamu terdengar, ingatan kami lari pada dua kondisimu. Ketika sedang ‘waras’ dan ‘kumat’ atau ‘bangun’ dan ‘topo turu’. Ada hari di mana kamu bangun dan topo turu. Ketika topo turu, kau hanya terbaring di atas tempat tidur setiap hari. Beranjak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologismu: makan-minum-membuang ludah-kencing-boker dan mungkin saja kamu sesekali ngupil. Dalam kondisi seperti ini, orang-orang melakukan aktifitas yang tidak jauh beda denganmu. Hanya memenuhi kebutuhan biologis dari masing-masing orang.
Lain halnya ketika kamu bangun, ada efek yang memberikan orang di sekitarmu rasa gemas ketika kamu berulah jail. Seperti memindahkan posisi sandal dari tempat asal. Mengingat masih banyaknya rumah orang-orang tak berpagar sehingga kamu dengan mudah memindahkan sandal yang berada di depan rumah orang-orang. Rasa lucu ketika menyanyikan lagu-lagu yang liriknya keliru atau kamu tertawa dengan jumlah gigimu yang hanya tinggal satu. Rasa sedih ketika kamu kesakitan setelah mendapat ‘pelajaran’ dari orang-orang rumahmu.
Seperti orang yang baru keluar dari dalam penjara. Kau hirup udara luar sebebas-bebasnya, sepuas-puasnya. Orang-orang merasakan hawa kebebasanmu dengan sedikit waswas. Takut sandal mereka menjadi sasaran jailmu. Di saat bersamaan, mereka cenderung senang karena kamu sering membersihkan halaman rumah mereka di pagi buta. Kami yang masih muda senang ditemani begadang semalaman sambil mendengar dongengmu tentang orang-orang kampung yang sudah tua sampai sudah meninggal. Memorimu cukup kuat untuk mengingat orang-orang kampung dari generasi ke generasi. Gemasnya, kau ikut nimbrung dan memotong setiap pembicaraan kami  tentang hal-hal remeh yang dialami pemuda. Memotong dengan pertanyaan seputar identitas diri atau kegiatan dari kami yang sedang mengobrol.
Aku sebagai ponakanmu mencoba biasa. Mencoba memahami apa yang menjadikanmu seperti itu. Seperti saat ada masalah dengan orang-orang rumahmu, kau bercerita dengan suara lantang sambil berjalan. Aku lihat dirimu membutuhkan teman ngobrol. Ada perhatian yang hilang dan coba kau miliki dengan mengalihkan perhatian orang-orang sekitarmu dengan tingkah-tingkah anehmu. Ada keinginan menjadi tua yang bahagia dengan semua keinginan-keinginanmu terpenuhi. Layaknya keinginan banyak orang ketika sudah menjadi tua. Toh keinginanmu hanya hal-hal remeh seperti makan bakso, es, sempol, atau sesekali ingin membeli  jarik di pasar. O iya, menimang cucu dari anak-anakmu adalah satu keinginan utama dari menjadi tua pada umumnya. 
Keinginan itu tidak sepenuhnya bisa kau gapai. Ada banyak hal remeh yang kemudian menjadi sulit karena kondisi ‘bangun’mu. Kau dianggap gila oleh banyak orang. Bahkan mungkin orang rumahmu, saudaramu, tetanggamu, sampai orang yang kebetulan lewat rumahmu beranggapan kau gila karena cerita orang-orang di sekitarmu. Gila? Bicara dan melakukan hal-hal logis masih kau lakukan dianggap gila? Mengutip Basyit, seorang calon psikolog namun gagal karena banyak hal mengatakan, tingkah seperti yang kau lakukan disebabkan oleh adanya gangguan. Yang sebenarnya menurutku berasal dari kurangnya perhatian orang-orang di sekitarmu saja. Ada lubang yang cukup besar dan kau coba tutupi lubang itu. Tapi apa daya tangan tak sampai merangkul gunung. Kau dianggap gila!
Hingga malam itu ketika Roni, anak dari kakakmu Misiyem mengabariku, kau sedang dirawat di RSUD dr. Soebandi Jember akibat ditabrak sepeda motor yang dikendarai oleh remaja yang ugal-ugalan. Aku menjengukmu bersama Roni sekaligus Khotib, anak dari adikmu Saminten. Kau sedang tidur setelah melakukan operasi pada kaki. Ya, tidak berselang lama kau diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Sesampainya di rumah, kabar yang kudapat, kau dirujuk ke rumah sakit yang ada di Puger. Tuhan menutup lubang besar di hidupmu. Kau meninggalkan kami untuk waktu yang tidak pernah pasti.
***
Roni memberi kabar melalui pesan singkat tentang rencana halal bihalal tahun depan. Pada 21 Juni 2018, aku dan beberapa saudara kumpul untuk membahas rencana itu. Di dalamnya, kami mencoba melacak ulang orang-orang tua yang masih hidup atau meninggal untuk ditulis agar tertib administrasi. Maklum, kami mempunyai ingatan yang lemah dan tidak sekuat Siwonah.
Ya, Siwonah. Dia adalah kunci untuk membuka berangkas riwayat persaudaraan dalam keluarga kami. Bukankah dia sudah meninggal? Kami, atau mungkin aku saja, merasa kehilangan Siwonah. Malam itu kami hanya mengucap seandainya... seandainya... dan seandainya. Seperti lagu Rhoma Irama: Kalau sudah tiada, kehadiran sungguh berharga; kehilangan.

Kamis, 10 November 2016

Kopi Pangku


Arek wedok ngene iki lo penak diajak urip soro bareng”
Urip wes soro malah diajak soro maneh to mas-mas”


Depan rumah ada bangku berukuran besar dari bambu muat sepuluh orang. Setelah parkir sepeda motor dan duduk, saya robek bagian sudut plastik lalu mengeluarkan satu persatu pentol cilok yang sudah tercampur kecap dan sambal. Tiba-tiba anjing berukuran kecil jalan menuju tempat duduk saya dari dalam rumah. Sesekali dia ingin merebut satu bungkus cilok yang sedang saya makan.

Pesen opo mas?”
Aku podo karo kanca-kancaku,” jawab saya

Tiga buah meja panjang ukuran dua meter ditata membentuk huruf ‘L’. Satu buah televisi dua puluh inch, DVD dan sound ukuran sepuluh untuk memutar lagu-lagu dangdut koplo, khas Banyuwangi dan beberapa lagu pop yang sudah digubah menjadi remix. Fasilitas yang jamak didapat oleh pengunjung warung kopi di Kabupaten Jember bagian selatan. Uniknya, ruang tamu berukuran 4 x 3 meter persegi menjadi tempat pengunjung warung kopi. Selain itu pemilik warung tidak menyediakan cahaya selain pantulan dari televisi dan lampu led dengan nyala aneka warna dipasang di atas pintu masuk.

Pemilik warung menyediakan kamar mandi dan WC dengan penerangan lampu 5 watt. Untuk menuju ke kamar mandi, dua anjing kecil lalu lalang di dalam rumah sebagai pasukan keamanan. Acik, salah satu karyawan mengatakan, keberadaan dua anjing di warung setelah ada segerombolan pemuda dari salah satu perguruan silat yang tidak mau membayar. Parahnya mereka sempat mengancam akan membakar rumah sekaligus warung ini. Akibatnya, pihak warung rugi beberapa gelas minuman yang sudah dipesan oleh perguruan silat yang sedang banyak digandrungi pemuda Jember bagian selatan. “Mereka takut sama anjing. Ya sudah, anjing diikat di depan pintu saat mereka datang atau tidak mau membayar kembali,” kata Acik.

***

Saya masuk dalam rumah ini setelah menghabiskan satu bungkus cilok. Tiga teman saya sudah duduk diantara dua perempuan karyawan warung. Rata-rata usia mereka dua puluh tiga tahun. Namanya Acik, perempuan bertubuh kecil daripada karyawan lain yang paling banyak bicara. Potongan rambutnya sebahu dicat blonde dan memiliki suara melengking. Saat mengikuti lirik lagu yang muncul di televisi otot lehernya mengeras. Dia mencoba mengimbangi kerasnya suara sound. Hasilnya tidak enak untuk didengar.

Malam itu ia mengenakan celana ukuran sejengkal seperti Reni, karyawan lain yang baru bekerja setengah bulan lalu. Menurut Acik, pertemuan mereka di lapangan Kecamatan Balung. “Waktu itu teman saya yang membawa Reni dari Semboro, Jember,” ucap Acik.

Awal buka warung, Acik sudah menjadi karyawan. Ia mengatakan, sebelumnya dia dan pemilik warung yang sekaligus kakaknya itu pekerja di warung daerah Tamansari, Wuluhan, Jember. Menjadi karyawan dari warung dengan konsep remang-remang sudah Acik jalani selama lima bulan. Kerapkali ada gergebekan dari warga, deretan warung remang-remang di Desa Tamansari kini gulung tikar. Sebutan untuk warung dengan konsep remang-remang oleh warga dikenal sebagai “kopi pangku”.

Berkerja di sebuah kafe di Pulau Papua menjadi pilihan dari tidak mendapatnya pekerjaan. Tidak betah dengan lingkungan sekitar, rekan kerja sampai upah menjadi motif beberapa karyawan kopang. Seperti Reni, perempuan asal Semboro, Jember memlih untuk berhenti kerja di pabrik plastik di kawasan Surabaya dan menjadi karyawan kopi pangku (kopang). “Sebelum kerja di sini (kopang) saya kerja di pabrik plastik,” jawab Reni saat saya tanya alasan kerja di kopang. Reni merasa tidak nyaman dengan beberapa pertanyaan tentang motifnya bekerja di kopang. Kemudian memilih untuk pergi dari tempat duduk kami dan menemani pengunjung kopang yang lain.

Belakangan saya tahu penyebab Reni dan Acik pergi dari tempat duduk kami. Temanmu, kata Acik kepada teman saya, mbledos ta? Mereka menganggap saya sedang dalam pengaruh alkohol atau obat-obat terlarang. Lantaran obrolan muncul bukan obrolan panas tapi motif para karyawan bekerja di kopang.

***

Majalah Millenium produk pers mahasiswa kampus IAIN Jember edisi IX membuat laporan menarik tentang fenomena warung kopang. Mereka menghadapkan fenomena itu dengan banyaknya jumlah pesantren di kawasan Jember selatan. Hasilnya, menurut Ayu Sutarto budayawan Jember, fenomena kopang tidak bisa ditarik garis lurus dengan banyaknya jumlah kopang dan pesantren. Bahwa pengunjung adalah subyek yang berdiri sendiri atas dasar hak asasi manusia. “Hal seperti ini kan transaksional, siapa yang ingin dibelai (di warung kopi pangku) ya mereka akan datang ke sana,” kata Ayu seperti dikutip dalam majalah Millenium.

Laporan itu turun pada akhir 2012. Ada pola yang sama dengan laku karyawan kopang dalam menghadapi pengunjung. Meladeni obrolan seksis dari pengunjung, boleh memangku para karyawan kopang yang kesemuanya perempuan, memegang seluruh tubuh karyawan tanpa terkecuali. Bedanya, seiring ketatnya peraturan terhadap keberadaan kopang para karyawan dilarang mengonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Begitupun dengan para pengunjung.

Jaka, salah satu pengunjung kopang mengatakan bahwa tahun-tahun sebelumnya di dalam warung masih dapat dijumpai minuman beralkohol jenis bir. “Sekarang jarang dan nyaris tidak ada. Kalau ingin konsumsi obat-obat terlarang tidak boleh di dalam warung,” terang Jaka.

Selain larangan mengonsumsi alkohol, motif dari karyawan tidak terbatas pada minimnya lapangan pekerjaan. Meli, karyawan kopang asal Lumajang menganggap pekerjaan yang sedang ia jalani terbatas pada penyaluran hobi. “Saya sekolah SMA berhenti saat masih kelas satu,” kata Meli. Pada masa itu, ia sudah kerap memasuki warung remang-remang.

Saya masih perawan waktu itu,” imbuh Meli.
Kalau sekarang?” sahut Jaka
Ya sudah tidak,” jawab Meli sambil berkelakar

Keluarga Meli tahu pekerjaan yang sedang ia jalani. Prinsip yang dipegang, ungkap Meli, tidak boleh membuat masalah dengan masyarakat sekitar. Tidak membuat malu keluarga. Untuk itu dia tidak menjadi pekerja seks di daerah Pasirian, Lumajang. “Sebelum ke lesehan ini (sebutan lain untuk kopang) saya kerja di Sudat. Di sana gajinya cuma enam ratus,” ucap Meli.

Sudat itu, tambah Meli, bos pekerja seks komersial di kawasan Wuluhan. Meski bekerja delapan bulan Meli tidak mendapat kenaikan upah. Hal itu yang menjadi alasan bekerja di kopang di bilangan Silir, Wuluhan. “Di sini gajinya tujuh ratus. Akan dinaikan setelah beberapa bulan,” ungkap Meli.

***

Banyak pandangan miring terhadap karyawan kopang. Bahwa mereka sekaligus menjadi pekerja seks komersil adalah mutlak adanya. Meski tidak dapat dipungkiri, pemilik kopang melakukan transaksi jasa seks untuk pengunjung. “Jika ingin membawa karyawan harus merunding pada bosnya,” kata Atok salah satu pengunjung kopang.

Mendengar itu Meli menolak anggapan itu. Di tempat ia bekerja tidak menyediakan jasa seks. “Di sini anak-anaknya gabisa dibuat ‘cabutan’ mas,” kata Meli. Atok menganggap mustahil karyawan kopang tidak menerima ‘cabutan’. Istilah ini dipakai untuk transaksi membawa salah satu karyawan untuk berhubungan seks di manapun selain di dalam warung. Setelah mendengar jawaban Atok, Meli pindah ke tempat duduk pengunjung yang lain.

Pandangan miring yang bekembang di masyarakat tentang praktik ‘grepe’. Yaitu menyentuh seluruh badan karyawan kopang tanpa terkecuali. Mereka menyimpulkan bahwa tubuh mereka rela di grepe. “Mustahil tidak melayani jasa seks,” komentar yang berkembang di masyarakat.

Saya mengajukan pertanyaan yang sama tentang motif bekerja di kopang terhadap empat karyawan kopang. Saat satu karyawan sedang mengobrol dengan saya, Reni sedang di grepe oleh teman saya. Namanya Ratih, pemilik kopang yang juga duduk bersama pengunjung yang datang. Salah satu teman mengatakan bahwa Reni terlihat cocok untuk hubungan serius.

Arek wedok ngene iki lo penak diajak urip soro bareng,” katanya sambil menunjuk Reni
Urip wes soro malah diajak soro maneh to mas-mas,” timpal Ratih kepada teman saya.

Ratih mengatakan, jika dia dan semua karyawan kopang anak orang kaya. Tidak mungkin dan perlu bagi mereka untuk bekerja di kopang.

***

Setelah kopi kami habis, salah satu teman bertanya harga yang harus kami bayar. “Kopi papat, pat likur ewu mas,” ucap Acik. Kopi sudah kami bayar dan pulang. Di dekat pintu, Reni dipangku dan dipeluk oleh pengunjung yang baru datang. Ia menjulurkan tangan kepada kami sembari berpesan untuk kembali datang di warung ini.

Senin, 17 Oktober 2016

Warung Kopi

Suatu malam di rumah sepupu di kawasan Wuluhan, Jember, saya mendapat ajakan untuk menikmati kopi. Menariknya, pemilik warung menyediakan perempuan sebagai teman ngobrol ditengah maraknya warung kopi penyedia jaringan internet gratis. Cocok untuk menghilang sejenak dari jenuhnya pekerjaan atau kuliah.

Bangunan warung  cukup minimalis. Berdiri tepat di depan rumah tersambung dinding rumah bagian depan. Bambu dengan tujuh cendela berdiri membentuk huruf  u menutupi bagian depan rumah. Alasnya dari tanah. Satu bangku panjang diletakkan depan warung samping pintu masuk. Tiga bangku panjang lainnya berada di seberang jalan. Pemilik warung menyediakan bangku lebar dan panjang di dalam warung. Muat untuk enam orang.

“Pesen opo?”
“Kopi loro jahe siji,” jawab Jek, sepupu saya

Kopi yang sudah halus, gula dan beberapa gelas menjadi satu di meja ukuran dua meter. Aneka macam  minuman siap saji bungkusan terpasang di tali yang terpasang pada dinding rumah. Dua perempuan pindah dari satu bangku ke bangku lainnya. Menyapa dan mengajak ngobrol pembeli. “Teko ngendi mas,” sapanya pada saya yang duduk di lantai depan rumah yang berada di samping warung.

Jek mengatakan bahwa saya dan Khoi, tetangga sekaligus teman Jek, baru dari rumah di kawasan Wuluhan. Dari lampu merah Kecamatan Ambulu lurus ke selatan mengikuti jalan menuju pantai watu ulo. Dua persimpangan berukuran kecil dari kantor urusan agama (KUA) yang berada di bahu kiri jalan belok. Setelah bertemu persimpangan empat belok kanan. Warungnya tepat di kiri jalan.
Satu perempuan yang awalnya duduk di bangku depan warung menemani pembeli yang lain menghampiri kami. Bertanya asal daerah dan sebelum ke warung itu dari mana saja. Lalu obrolan mengalir tak terbendung dari humor sampai pujian berbuntut rayuan.

“Pedofil.” Ucap Khoi pada saya
“Maksutnya?” jawab saya saat bertanya urusan sekolah sampai teknis menjaga warung kopi.

Saya kaget saat tahu perempuan yang menemani kami ngobrol masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Anggapan saya awal dia sudah duduk di bangku sekolah atas. Bentuk tubuhnya yang lebar (tapi bukan gemuk), suaranya yang besar, melayani obrolan seksis dari pembeli, membuat kesimpulan salah. Bahwa ia sudah lulus sekolah atau minimal sudah hampir lulus dari sekolah atas.

Perempuan SMP itu pergi masuk rumah. Kami membuat obrolan kecil sendiri lantaran satu perempuan menemani ngobrol pelanggan yang lain. Atau sesekali tampak Jek mengajak ngobrol pembuat kopi yang kisaran usianya sudah empat puluh tahun. “Sampean dino iki kok iso ketok ayu. Opo yo gae (susuk),” kata Jek sambil terkekeh. Tugasnya meracik kopi atau minuman  yang lain, memasak air dan mencuci gelas yang kotor. Gelas-gelas yang sudah ditinggal oleh pelanggan dan sisa pekerjaan lainnya menjadi tugas dua perempuan ‘teman’ pelanggan warung.


***

Malam itu ia memakai kaos oblong warna gelap dengan celana warna biru laut. Duduknya membungkungi kami. Ia berbicara saat salah satu diantara kami bertanya. Sebenarnya ia cukup pemalu. Tidak berani menatap lawan bicaranya. Namun ia cukup pintar dalam menutupi rasa malu dan geroginya itu. Tertawa dengan suara yang dibuat keras agar terlihat akrab dengan pelanggan warung kopi.

Warung ini buka setelah maghrib sampai tengah malam. Namanya NNW, perempuan tangguh yang menghabiskan waktu malamnya menjadi pekerja dari warung kopi ibunya. Ia bekerja mulai sore untuk mempersiapkan warung kopinya. Saat jenuh dengan sekolah dan pekerjaan ia gunakan waktunya untuk berselancar di media sosial. Melakukan percakapan yang bebas tanpa harus meladeni alur obrolan seksis para pelanggan warung kopi milik ibunya.

Mungkin ini semacam ritual khusus. Sebelumnya, Fita sepupu NNW yang baru lulus SMA pada 2014 lalu mengatakan, ia sudah bekerja menjaga warung kopi itu sejak duduk di bangku kelas dua SMP. Ia baru bekerja, tambah NNW, di warung kopi milik ibunya dapat tiga bulan setelah naik kelas dua di bangku SMP.

Fita sudah terbiasa menghadapi pelanggan dengan obrolan seksis, berbagai macam pujian keindahan atas tubuhnya dibanding dengan perempuan lain. NNW masih canggung. “Ojo gombali adik ku mas. Ijeh cilik,” teriaknya pada  pelanggan yang mencoba merayu NNW. Sedangkan NNW hanya tertawa kecil mendengar Fita meneriaki pelanggan.

Kasih sayang Fita cukup besar. Ia melindungi sepupunya dari rayuan para pelanggan. Meski satu waktu juga meneriaki NNW yang berada di dalam rumah untuk menemani ngobrol pelanggan yang baru datang. Membiasakan NNW menemani ngobrol para pelanggan adalah cara paling ampuh untuk membuang rasa canggungnya. Atau membiarkan NNW dirayu pelanggan oleh ibunya  yang bersebelahan adalah bentuk pendidikan mandiri atas hidupnya sendiri. Saat hendak bertanya kepada ibunya, saya diajak pulang oleh Jek dan Khoi.


***

NNW pamit masuk rumah pada kami. Ia pergi setelah beberapa kali saya tanya uang saku sekolah yang ia terima. Saya ingin memastikan bahwa kehidupan nya dijamin oleh ibunya sebagai ganti dari waktunya selama bekerja. Bukan eksploitasi besar-besaran terhadap jenis kelamin NNW dan waktu belajarnya. Tapi NNW selalu diam setiap saya ajukan pertanyaan tentang uang saku yang ia terima selama sekolah.

Pikiran akan berakibat melecehkan NNW belum muncul. Saya semakin takut dan ingin memastikan bahwa NNW tidak sedang dalam eksploitasi oleh ibunya. Rasa aneh dan menyesal saat NNW pamit masuk rumah. Anggapan saya ingin menyewa kelamin NNW tetiba muncul, anggapan saya telah melecehkan NNW muncul, anggapan bahwa saya tidak pantas sebagai orang yang berpendidikan dan menghormati perempuan muncul. Saya takut dan sangat menyesal jika NNW mempunyai tafsir yang berbeda dari tujuan pertanyaan saya. Jika tafsir buruk itu yang muncul, saya ingin meminta maaf pada NNW. Bahwa saya pantas disebut sebagai pengecut dan bajingan karena tidak menghargai perempuan dan telah merendahkannya. Kutapantas disebut orang berpendidikan.

Ia cukup lama berada di dalam rumah. Ia keluar karena Fita teriak memangil saat ada pelanggan baru datang. Warung kopi ini, menurut Jek, berbeda dengan ‘lesehan’ yang menyediakan jasa tumpangan di paha, beberapa minuman beralkohol, jasa kelamin, jasa menyentuh seluruh tubuh. Warung tempat NNW bekerja hanya pada batas menemani ngobrol saja.


Kenyataan bahwa NNW sudah bekerja dan menemani atau mengikuti alur obrolan pelanggan yang tak jarang seksis itu berat. Ibunya hanya diam diri berharap anaknya dalam waktu yang tidak lama terbiasa dengan obrolan para pelanggan. Ayahnya diam diri duduk di bangku panjang di seberang jalan bersama pelanggan yang lain. Ia hanya diam saat melihat istri dan anaknya diajak ngobrol perihal seksis oleh pelanggan. Karena pelanggan warung ini dari usia lima belas sampai empat puluh tahun. Mendengar dan mendengungkan “jangan berharap pada Negara” menjadi kegetiran yang hebat pada diri. Mendengar lagu ‘sore tugu pancoran’ milik Iwan Fals semakin membuat tangan ini mengakhiri tulisan. Bersama kita tumbuhkan kesadaran kritis.

Senin, 13 Juni 2016

Lawan Kemiskinan

"Miskin mendekati kekufuran. Sabar dan menerima atas kemiskinan lebih utama dari segala-galanya"
~pesan Hasyim Asy'ari, sepupu saya~

Pada masa 24 pada bulan April tahun ini, kebutuhan ekonomi semakin besar. Mengingat uang pemasukan terhambat meskipun kebutuhan sehari-hari stagnan. Menjadi beruntung saat melintas di Jl. Kauman, Mangli, Jember komplek perkampungan warga sekaligus penyedia jasa kos bagi mahasiswa maupun pekerja. 'Menawarkan kerja lem amplop dengan upah Rp 50.000 perbungkus'. Kira-kira tulisan itu menempel di dinding jalan menuju kosan. "Satu bungkus dengan jumlah 100-200 pcs gakpapa. Asal ada pemasukan," batin saya.

Malam nya, saya mengirim pesan singkat kepada nomor yang tertera di kertas tempelan itu. Saya menunggu balasan kira-kira antara Maghrib sampai Isya. Hingga pada tengah malam (bagi pelajar sekolah dasar) saya baru mendapat balasan. "Kerja nya pengeleman amplop teh untk 1 kotak komisi 50ribu.bsa dkerjakan drumah syaratnya potokpi krtu plajar / ktp sama pendaftaran 10rb.ktmu bpk KAIT"

Mengirim pesan pada nomor di kertas liar yang menempel di pinggir, bibir jalan adalah pengalaman kali pertama. Nekat kuncinya. Mengingat banyak penipuan terjadi dengan modus selebaran kertas liar. Seperti usaha klinik Tong Fang yang akhirnya tutup dengan testimoni handal nya: setelah berobat ke klinik Tong Fang, kaki saya hilang. Terlanjur takut untuk percaya pengumuman dengan model selebaran setelah mendapat peringatan dari sepupu. Kalau tidak salah ingat saat duduk di bangku sekolah kelas atas.

Ketakutan dan keraguan membesar saat ada uang pendaftaran sebesar Rp 10.000. Ada sistem administrasi yang harus dibayar. Laiknya akan mengajukan pinjaman ke pihak bank, koperasi, atau pegadaian. Ini sangat tidak syar'i dan tidak sesuai dengan ketenagakerjaan. Bahwa orang bekerja mendistribusikan pikir maupun tenaga. Bukan investasi macam perusahaan atau mlm. Mengerikan.

Keesokan harinya, saya berkunjung ke kantor penyedia jasa kerja (yang meragukan) itu. "Slhkan dtng CV GREEN EXOTIC Alamat kantor Jln. BRAWIJAYA No 67 A jubung ( 500m ketimur terminal TAWANG ALUN JEMBER sebelah POM BENSIN Kota JEMBER)..Kantor buka senin sampai sabtu jam 8 pgi smpai stngah 4 sore Tgl merah kantor lbur ktmu bpk KAIT". Dengan sepeda motor teman, saya membawa semua persyaratan yang sudah ditentukan.

Kantor yang tertera di alamat yang saya dapat terapit oleh pom bensin Tawangalun dan dinas perhubungan Jember. Delapan pagi, kantor ini sudah penuh masyarakat. Usia mereka kisaran 18-30 tahun. Rerata memakai celana legging ketat yang sempat tren beberapa bulan lalu. Pilihan gincu dengan warna mencolok, dan kaos lengan pendek yang ketat membuat mereka tampak seperti pekerja pabrik di daerah Pandaan, Pasuruan. Ini pengalaman saya mengelilingi pabrik yang ada di kawasan Bangil oleh sepupu.

Satu persatu orang dipanggil. Beberapa karyawan mengenakan kemeja dan sepatu pantofel. Yang perempuan dengan baju motif garis memanjang dan gincu yang menyala. Saya membuat kesimpulan bahwa mereka seperti pekerja mlm. Lantaran pakaian dan dandan mereka tampak berlebihan. Sama seperti saat saya menghadiri perkumpulan mlm oleh tetangga saya. "Terpenting jajan sekalian panganane. Mlm jelas resek. Dadi mrono golek panganan wae," kata tetangga saya dulu.

Kini giliran saya. Formulir berisi identitas diri diberikan. Pojok kanan bagian bawah tercantum uang yang harus dibayarkan: Rp 10.000. Karena kesal dan kecewa akibat gagal mencari uang tambahan. Lantaran informasi kerja yang mirip mlm. Saya memutuskan untuk mengisi formulir dan membayar persyaratan itu. Berharap tahu modus yang digunakan oleh mereka. Setelah mengisi, saya dipanggil oleh karyawan perempuan berdandan over itu. "Langsung naik ke lantai dua mas," kata karyawan itu.
"Dari mana mas?" Tanya seorang karyawan pria kepada saya.

Beberapa pertanyaan seputar identitas dan pekerjaan disodorkan. Ia menjelaskan teknis kerja dari selebaran liar itu. Saya mengiyakan semua penjelasan nya tanpa menyela dengan satu pertanyaan apapun.

"Berapa amplop yang harus dilem dalam satu kotak itu pak?" Tanya sebelah saya. Kebetulan saya tidak sendiri menghadapi karyawan itu.
Dia menjelaskan bahwa amplop yang harus dilem berjumlah lima puluh. Satu amplop kecil untuk satu teh celup yang akan kami kerjakan, mendapat upah Rp 1.000. Sangat menggiyurkan. "Itu hanya uji coba. Jika sukses, setelahnya tidak terbatas lima puluh amplop. Terserah kalian minta berapa amplop," tambah karyawan itu.
"Ada syaratnya"
"Apa?" Jawab bapak-bapak sebelah saya.
"Tapi saya tidak maksa lo pak"
Bapak itu penasaran. Dan saya hanya mampu menguap menahan kantuk pagi hari.
"Bapak harus jadi member kami. Bayarnya Rp 250.000. Bisa cicil kok pak"
"Emmm," jawab sang bapak
"Bapak boleh pulang sekarang. Kalau berminat silahkan datang kembali. Nanti langsung temui saya saat kembali ke sini pak"
Kami pulang. Saat di luar, bapak ini ngedumel. Dia merasa tertipu. Uang Rp 10.000 hilang sia-sia tanpa mendapat apa-apa. Hanya penjelasan dari karyawan (penipu) ulung. Maaf pak, saya tidak bisa membantu. Karena saya bersanding dengan bapak di lantai dua untuk mengetahui modus busuk mereka. Maaf.

Kejadian semacam ini sangat berpotensi menarik masyarakat menengah ke bawah. Saat mereka terdesak kebutuhan yang besar, uang dengan jumlah yang besar, dan kondisi yang menghimpit. Hal apapun akan coba dilakukan meski sangat beresiko terhadap jiwa mereka. Dalam hal ini, saya mengamini pesan sepupu saya. Bahwa miskin (intelektualitas, waktu, teman, sodara, harta) mendekati kekufuran. Mendekati kemunkaran. Jangan heran dengan beberapa masyarakat Muslim yang pindah agama menjadi Kristiani seperti di daerah Kesilir, Wuluhan, Jember. Atau yang terjadi di Madiun, perpindahan Jemaat protestan ke aliran lain. Mereka mendapat iming-iming mi instan dan beras.

Tak usah bingung melihat masyarakat berbondong-bondong menipu tetangga mereka sendiri dalam pentas mlm. Tanpa tetangga, apalah fungsi kartu member mereka yang berharga ratusan ribu sampai jutaan itu.

Kaget dengan tindakan brutal para kelompok fundamental terhadap masyarakat beragama di luar mereka? Basi. Karena mereka memang miskin intelektualitas dan otak nya kopong.
Adalah penting bagi kita membentengi diri dari hal-hal yang mendekati kekufuran. Jangan pernah mau bersabar dan menerima tindakan kelompok fundamental dan para member mlm. Mereka tidak berkeprimanusiaan. Yang pantas untuk kita sabari adalah miskin harta. Bukan selain itu.

Miskin harta harus kita perangi. Agar tetap menjadi manusia seutuhnya. Yang tidak merusak manusia lain karena hak-hak mereka kita rampas. Dengan menghalalkan segala cara termasuk melanggar hak-hak masyarakat lain.
Lawan kemiskinan!
Lawan kelompok fundamental!
Lawan member mlm!

Rabu, 13 April 2016

Judi

Menjaga kestabilan uang dengan sistem 'memutar' mempunyai kesamaan dengan sistem judi. Bertaruh atas sesuatu, mendapatkan untung atau rugi lalu bertaruh kembali. Sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Kejatuhan untung meskipun sedikit menjadi kelebihan dari sistem ini. Karena kita bisa bertaruh kembali diperjudian selanjutnya. Ruginya saat tidak untung sama sekali. Modal pas dan tidak kembali adalah kerugian mutlak. Galo akan kehidupan bisa mendera orang yang sedang kalah berjudi.
Kali ini saya mencoba berjudi dengan pulsa. Saat ada pembeli untunglah saya. Karena kondisi uang berputar dari pembeli untuk beli saldo kembali. Sialnya ketika tidak ada pembeli dan uang sudah habis karena modal berjudi adalah sisa uang di saku. Perjudian memang kejam saat modal pas-pasan. Belum lagi ada pembeli yang menggunakan sistem pembayaran hutang. Semakin banyak yang hutang dan tidak tertibnya para penghutang. Di situlah galo mendera batin yang terluka karena cinta. Oleh karenanya saya memberi peringatan bagi pembeli yang menggunakan sistem hutang. "Batas maksimal hutang dua hari. Kelewat hari akan saya laporkan ke kepala rt setempat".

Jangan takut berjudi. Hidup adalah perjudian yang sudah digariskan oleh yang kuasa. Wkwkwkwkwkwk

Minggu, 10 Januari 2016

#SaveSaut, Gerakan yang Butuh Kaji Ulang

Gajah dipelupuk mata tak tampak
Semut diseberang lautan tampak

Semasa kecil telinga saya terbiasa mendengar peribahasa. Meski tidak paham, saya dan teman sepermainan menikmati itu. Bahkan, tidak jarang kami mengucapkan satu peribahasa dalam suatu konteks yang sama sekali tidak berhubungan. Apa ini efek dari guru Bahasa Indonesia yang rupawan itu? Atau mungkin karena saya besar di lingkungan yang masih kental akan budaya, norma, maupun agama?Atau karena rumah saya dulu sempat menjadi tempat nyantri dua orang Madiun yang dikelola oleh Bapak dan kakaknya? Atau karena berdirinya pondok pesantren dengan santri dari berbagai daerah yang tidak jauh dari rumah, sekira tiga puluh meter ? dugaan demi dugaan muncul. Tidak ingin buta akan fakta, saya mencoba menyusun fakta historis dari kehidupan serta lingkungan saya tinggal.

Saya mengenal syair-syair yang tertulis dalam kita Ta’lim al-Muta’alim karangan Zarnuji sejak kelas empat SD. Sempat protes terhadap Bapak soal kelas empat SD kok sudah mengaji kitab kuning. Waktu itu saya berusia sembilan tahunan. “Mboten nopo-nopo. Sing penting ngaji. Masalah ngerti perkoro wengkeng (tidak apa-apa. Yang penting ngaji. Soal paham itu urusan belakang)” ucap Bapak sambil terkekeh.

Sejak itu pula saya terbiasa menghapal puluhan bahkan ratusan nadhom dari kitab-kitab yang berisikan syair. Tidak ada yang membuat saya bangga kecuali menjadi anak yang paling banyak hapalan. Hari-hari masa kecil saya habiskan untuk menghapal syair. Namun benar, saya hanya hapal dan tidak paham maksud maupun isi syair itu. Semacam gembala kerbau di ladang yang bebas ditarik kemana saja oleh juragan atau petani. Setelah tujuh tahun berjalan, saya baru sedikit paham maksud dari syair-syair itu.

Kini, soal syair tidak segampang masa kecil saya; membaca, menghapal, membacakan ulang tanpa melihat kitab di depan ustadz. Ada tanda-tanda yang harus dipahami sebagai patokan syair sebagai karya sastra. Tujuan nya agar tidak semua orang dengan mudah membuat karya sastra sembari mengatakan karyanya yang otonom. Ada metafor yang sudah disusun rapi bak ayat suci. Tidak seperti yang saya bayangkan soal ‘karya sastra itu ungkapan personal dan suka-suka Gue mau nulis apa’. Begitu rumit. Seperti perdebatan antara kelompok Boemipoetra dengan Salihara. Sampai muncul ungkapan sastra kelamin, sastra selakangan. Hidup itu tidak gampang bung!

Perdebatan muncul entah sejak kapan. Situs web boemipoetra.wordpress.com terdaftar sejak 2000. Sedangkan salihara.org terdaftar pada 2008. Kawan-kawan saya yang paham soal sastra ada yang mengatakan perdebatan itu semata pertarungan dua poros besar antara Jogjakarta dan Jakarta. Antara Saut Situmorang dengan Goenawan Mohamad. Tidak hanya perdebatan sastra, tapi juga umpatan maupun makian. Sebagai orang awam yang rendah hati dan budiman, saya tidak memberikan komentar. Aku mung rakyat cilik kok kak...

Mengaji di pesantren itu tentrem. Tidak ada protes macam perkuliahan di kampus saya yang barbar. Dosen saja dihalalakan darahnya untuk diminum, apalagi sesama mahasiswa. Ngeri pokoke. Pesantren saya menggunakan sistem pendidikan tanya jawab atawa dialog searah. Ustadz adalah maha tahu, murid kopong alias tidak tahu. Apapun yang disampaikan oleh ustadz semacam wahyu yang harus didengarkan dengan hemat dan semestinya.

Beda dengan dunia akademisi yang idealnya sangat terbuka dengan kritik. Siapapun yang didebat oleh Saut Situmorang adalah bentuk kritik atas karya sastra. Namun ada yang menganggap bahwa yang dilakukan Saut tak lain adalah umpatan. Porsi kritik dan umpatan jomplang dengan lebih banyak umpatan. Posisi kritik dan umpatan masih buram. Tidak hanya Salihara. Kritik terbaru dan berujung pada meja hijau melibatkan Fatin Hamama, seorang penyair dengan kadar relijiusitas tinggi oleh wikipedia.

Apa yang disampaikan oleh Saut dalam kritiknya tak menyinggung soal sastra, melainkan hanya posisi kekuasaan saja. Sebagaimana Roland Barthes dalam Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa, ada yang beranggapan bahwa Saut sedang berada dipuncak eksistensialismenya, Saut sedang narsis dengan gerakan #SaveSaut, Saut menjadi lembek saat dijemput oleh Polda Metro Jaya yang sangat berbeda dengan kelantangan suaranya selama ini, atau ini hanya pertarungan politis antara Jogjakarta dengan Jakarta.

Tujuan di pesantren tak lain hanya untuk mendapat pujian dari orang tua karena sudah menjadi anak yang baik secara agama. Tidak keluar dari norma setempat. Mendapat pengertian dari hasil di pesantren itu urusan belakang. Saat seorang santri sudah mendapat pujian dari ustadz atau pengasuh pondok pesantren, maka tuntaslah ia dimata masyarakat dan orang tua.

Laiknya gerakan #SaveSaut yang mempunyai tujuan. Menurut fungsinya, tagar sangat mudah untuk dicari di media sosial. Hal ini dikenalkan oleh Twitter sejak 2 Juli 2009 untuk memberi tautan pada tagar dan mudah dalam pencarian. Ada tujuan tertentu. Jika tak salah ingat, saat mengaji kitab kuning saya biasa menggunakan ruju’ untuk menandai hal-hal tertentu.

Makhluk awam akan berbahaya saat menulis karena rentan menyesatkan. Maka dari itu, saya sudahi saja. Sebelumnya, saya mengecam keras siapapun yang menggunakan kekuasaan untuk menyiderai demokrasi, membungkam kebebasan berekspresi dengan alasan apapun. Dan saya berdoa semoga dia lebih lama di neraka berpuluh kali lipat daripada saya.


*untuk Writing Challenge V. Baca, komentar, kritik, edit sekalipun menjadi harapan penting bagi penulis. :)

Senin, 21 Desember 2015

Em-U-I (Bukan) Anak Pemerintah

Diskusi tulisan writing challenge (WC) yang bertemakan ‘hantu’ dengan waktu penggarapan selama 9-13 Desember lalu. Membuat saya dan kawan-kawan semangat kembali dan tidak minder terhadap tulisan masing-masing. Sekaligus mempertegas bahwa tidak perlu meniru gaya orang lain. Seperti, mojok, pindai, meski tidak bisa dipungkiri kita telah terbentuk oleh orang-orang sekitar. Guru, orang tua, buku bacaan, teman diskusi dalam hal wacana, asmara, bahkan sampai taraf warung kopi mana yang akan menjadi tujuan.

Saya sepakat dengan diskusi pada pagi itu, 20 Desember 2015. Tak ada alasan yang jelas perihal berhentinya diskusi pada malam sampai berganti dini hari itu. “Bagaimana air minumnya?” tanya Sadam. Saya dan Wibi, anggota muda LPM Manifest, tidak mendapat air minum kembali setelah mencari kesana kemari. Karena haus melanda tenggorokan kami, diskusi ditunda setelah palu sidang (dari botol air mineral) diketok sampai esok hari demi menjaga kualitas suara, mencegah radang tenggorokan karena asap rokok masih terus mengepul dari mulut peserta diskusi.

Em-U-I itu apa? Samuraikah? Penjaga malam? Atau penjual cilok? Tidak ada yang tahu persis. Laiknya P.E.K.K.A dalam permainan Clash of Clans yang dikelola supercell. Meski sulit untuk mengidentifikasi, ia mempunyai hari lahir. Em-U-I lahir pada Juli 1975 saat pemerintah otoritarian Suharto berkuasa. Tentunya, hal ini memengaruhi posisi Em-U-I sebagai lembaga negara yang fokus mengurusi umat muslim dengan sikap politik nya dengan pemerintahan Orba. Saya tidak ingin membuat frame negatif seperti yang dimiliki pemerintahan Orba sebagaimana fakta-fakta yang dikumpulkan oleh berbagai lembaga kemanusiaan dan HAM. Karena menjajarkan Orba dengan Em-U-I secara politik dalam sebuah tulisan itu adalah bentuk tindakan kafir. Tak ada pledoi yang apik saat menepis tuduhan sesat dari Em-U-I. Lihatlah orang-orang yang ada dibelakangnya, para pembesar dari tiap lapis ormas Islam terlibat aktif dalam perjalanan  lembaga ini.

Van Bruinessen dalam Jajat Burhanudin di buku yang berjudul ‘Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim dalam Sejarah Indonesia’ memberikan ulasan bahwa Em-U-I tidak menjadi fasilitas antara kepentingan pemerintah dan masyarakat muslim. Lembaga ini menjadi lebih condong menjadi kaki tangan pemerintah Orba dalam tindakan politisnya. Seperti, fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Em-U-I sebatas sebagai justifikasi Islam bagi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Hal menarik saya temukan dalam setiap fatwa yang dikeluarkan oleh Em-U-I, perihal diksi yang mereka gunakan serta analisisnya. Kecurigaan Jajat memang berdasar. Analisis yang dilakukan oleh Em-U-I sama sekali tidak jauh beda dengan apa yang telah dilakukan pemerintah. Pada akhir 2014 Em-U-I lagi-lagi latah mengeluarkan fatwa tentang Bandar, Pengedar, dan Penyalahguna Narkoba. Pemerintah sepakat untuk menghukum mati para pengedar dan serpihan terkecil dari gembong narkoba. Lantas disusul oleh fatwa atas keputusan pemerintah dan semakin menguatkan bahwa tindakan yang diambil oleh pemerintah memang benar adanya secara mutlak. Terlebih ada dalil-dalil yang menjadi landasan para Em-U-I soal khomer dan lain-lain.

Hemat saya, tindakan yang dilakukan oleh Em-U-I tidak ada daya tawar baru dalam menyelesaikan pengedaran narkoba di negeri ini. Tapi menguatkan pendapat pemerintah dengan dalil sebagai justifikasi atas keputusan yang diambil oleh pemerintah. “Em-U-I saja sudah melegalakn dibunuhnya pengedar narkoba dengan kadar tertentu (yang sebenarnya ambigu dan sangat absurd, sama halnya dengan pasal karet). Terus aku kudu piye?

Contoh lain fatwa tentang pertambangan yang ramah lingkungan. “Mana ada pertambangan yang ramah lingkungan?” ungkap aktivis anti tambang dalam suatu diskusi. Lagi-lagi Em-U-I mengeluarkan fatwa penegasan undang-undang tentang pertambangan yang dibumbui dengan dalil-dalil. Fatwa nya pun kembali tidak menawarkan solusi baru selain semakin menguatkan undang-undang pertambangan yang dalam pelaksanaan nya sangat timpang. Mana taring Em-U-I saat ada pertambangan? Saat rakyat kecil di hakimi oleh aparat kepolisian di Kendeng? Apakah mungkin hal itu kurang seksi hingga harus menyibukkan diri dengan membuat fatwa baru berbentuk buku dengan judul ‘Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia’? ketimbang harus berlaku serius terhadap fatwa yang sudah dikeluarkan soal tambang?

Diksi dan bahasa yang digunakan oleh Em-U-I sangat provokatif. Lapisan masyarakat (awam) mana yang tidak akan saling bunuh saat mengamini fatwa Em-U-I adalah suara illah? Diksi yang digunakan dalam fatwa yang berbentuk buku sangat sarkas. Seperti fatwa sebelum-sebelumnya. Perihal boleh membunuh, menyiksa, dan tindakan tidak manusiawi lain nya tertera dalam setiap fatwa yang lahir.

Saya rasa analisis dan penulisan dalam buku ini sangat dini dan dangkal. Karena penyusun fatwa ini tidak konsisten untuk menyebut Syi’ah yang salah adalah Rafidhi, penganut imamah, tidak mengimani salah satu atau dua dari para empat sahabar nabi yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Padahal penjelasan awal menerangkan bahwa syiah yang dilarang pada kelompok atau golongan ketiga. Namun porsi untuk meyebut syiah tanpa ada embel-embel lainnya begitu banyak. Sehingga terkesan memukul rata kelompok syiah.

Beberapa diksi ngawur dan dangkal dalam analisis yang digunakan Em-U-I:

1.       Bahaya laten

2.       Ancaman bagi NKRI

3.       Syiah pada era sekarang mempunyai misi misionaris (istilah yang sangat dibenci kalangan muslim dan dianggap sesat)

4.       Intelektual yang rendah

5.       Mui lembaga paling berkompeten dalam menjawab dan memecahkan setiap masalah sosial keagamaan yang timbul di masyarakat

6.       Mui sangat peka terhadap penyimpangan agama

7.       Mui berwenang menetapkan fatwa masalah akidah yang menyangkut kebenaran dan kemurnian keimanan umat islam di indonesia (dengan cetak tebal)

8.       Perbedaan yang dapat ditoleransi itu majal al ikhtilaf adalah suatu wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ‘ma ana ‘alaihi wa ashabiy’, yaitu paham keagamaan Ahlus-sunnah wal jama’ah dalam pengertian luas (dengan cetak tebal)

9.       Mui menghimbau kepada umat islam indonesia yang berfaham ahlussunnah wal jama’ah agar meningktkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran syiah (dengan cetak tebal)

10.   Mui telah menegaskan sikap mayoritas umat islam indonesia terhadap syiah dalam konsideran fatwa mui,Mayoritas umat islam indonesia adalah penganut  paham sunni (ahlussunah wal jamaah) yang tidak mengakui dan menolak paham syiah (dengan cetak tebal)

11.   Menyebutkan bahwa syiah imamah melakukan 10 kriteria aliran sesat yang sudah ditetapkan oleh mui. Anehnya, yang disebutkan hanya 3 poin meskipun dalam pengantarnya menyebut melakukan 10 hal tersebut (dengan cetak tebal)

Saya kira Em-U-I paham betul akan diksi yang mereka gunaka dalam fatwa. Memang benar tujuan adanya lembaga ini untuk menyatukan umat muslim. Namun nyatanya sangat berbeda. Lewat fatwa nya lah umat muslim saling serang, saling bunuh, saling pecah belah. Anehnya, dalam buku fatwa ini Em-U-I membuat sub pembahasan dengan judul ‘Potensi Konflik Syi’ah dan Sunni di Indonesia ‘. Apa tujuan nya? Terlebih isinya hanya pemaparan data tentang hari dan bulan pecahnya konflik tanpa ada penjabaran jelas terkait awal atau sebab pecah konflik. Mereka hanya menuliskan pembakaran oleh kelompok anti Syiah. Secara tak sadar hal ini akan membentuk pola pikir masyarakat bahwa Syiah adalah sumber masalah dan jangan sampai berkembang. Apakah ini yang dinamakan penelitian mendalam seperti yang sudah tertulis dalam enam bulan dengan model pertemuan yang intensif? Saya lebih sepakat menyebut ini sebagai kumpulan atau ringkasan dari pemberitaan media mainstream saja. Tidak seperti yang telah dilakukan oleh lembaga kemanusiaan dan HAM yang merilis kronologi yang begitu panjang lengkap dengan detil.

O iya, sebenarnya saya tidak mau tahu tentang berapa anggaran yang sudah dihabiskan dalam pembuatan fatwa berbentuk buku mini ini. Jumlah halaman nya pun hanya sekitar 109 halaman isi dengan ukuran 11x17 cm. Buku apa ini? Ukuran nya mirip komik anak-anak. Bahkan komik naruto pun masih terlalu tebal untuk satu sesi. Lalu, fakta mana lagi yang kau dustakan dengan data yang sangat prematur dan sangat dangkal.

Menarik kemudian mempertanyakan apakah Em-U-I telah melakukan penjiladan terhadap ludah yang sudah dibuang nya? Karena Em-U-I pada suatu waktu telah melaknat perbuatan memecah belah umat saat mengeluarkan fatwa tentang pengedar, bandar dan penyalah narkoba. Tapi saat mengeluarkan fatwa tentang Syiah itu sesat malah sebaliknya. Secara tersirat Em-U-I telah membuat perpecahan antar umat muslim. Saya bukan orang Syiah. Saya tidak sepakat dengan Syiah ketika dia mengkafirkan golongan di luarnya. Ironisnya, Em-U-I telah melakukan pengkafiran terhadap golongan Syiah.

Saya mempunyai pengalaman tentang dialog terbuka antara Syiah dan Sunni di kampus. Dialog yang terbangun tidak mencerminkan Ulama atau tokoh, minimal sebagai orang terdidik atau intelektual. Argumen yang dilempar oleh pembicara dari Sunni sangat provokatif dan menjatuhkan pembicara dari Syiah. Lantas saya apakah setuju dan sepaham dengan Syiah. O tidak. Secara garis lahir saya orang NU. Namun tidak menjadi kan saya sebagai orang yang menutup diri akan kebaruan meski ormas yang saya ikuti mendapat julukan tradisional, konservatif dan ndeso. Hahahaha

Catatan, untuk penggarapan fatwa ini begitu lama. Dibandingkan dengan Bahtsul Masail (sebuah metode diskusi dalam mencari solusi di kalangan NU) di desa saya, waktu enam bulan dengan buku mini nan tipis sangat mubadzir. Teruntuk kalian para orang yang bercokol di belakangnya, mohon lebih baik dan berpikir dan mencari ridho Illah sebagai tujuan kalian. Untuk idola saya, Ma’ruf Amin, ikutilah kata hati, bukan kata partai. Pe-Ka-S lebih bahaya daripada lintah lo bung. Tetap semangat dan lopjuh :-*


Writing Challenge IV