Jumat, 09 Mei 2014

Air Birahi

bintang gemintang terbentang luas
membentuk huruf-huruf kuno
aku tak mampu membacanya
tapi teduh di palung hati

sepintas tampak kuda bersayap membawa obor, indah
bintang dan obor beradu
berebut keelokan, kebijaksanaan, dan kecantikan
tak ada yang mau mengalah

Adam menarik lengan Hawa
mencumbu paras wajahnya
lekukan mata dan garis tangan mengalir peluh
mereka bercinta di bawah perseteruan

kuda itu mendarat di bumi
menjemput Adam dan Hawa ke langit teratas
melukis malam dengan lekukan birahi
air birahi menghujani bumi

tanah kering menjadi basah
bermunculan tanaman yang beragam
mereka memecah tanah
menancapkan akar mereka kuat-kuat

perseteruan berakhir
kuda bersayap pergi dari langit menuju langit teratas


Oleh-oleh singgah dari rumah si Mbah

Aku mendapat pelajaran baru dari si Mbah dalam menjalani kehidupan. Pelajaran dari interpretasiku sendiri. Hal ini tidak mutlak dan masih terbuka ruang dialog yang panjang dan lebar. Jika nantinya ditemukan hal tidak cocok dan tidak layak untuk dipakai.

Belajar dewasa
1.       Menampung, merespon perspektif orang lain
“Bibikmu kerjo dek Bali. Emboh opo sing digoleki. Kurang sugih paling. Wong dek umah garek masak, resik-resik. Jek kerjo dek Bali (bibikmu kerja di Bali. Tidak tahu apa yang dicari. Kurang kaya mungkin. Wong di rumah tinggal masak, bersih-bersih. Masih kerja di Bali),” kata si Mbah.
“Nggeh boten ngertos Mbah. Katah tiyang sugih tapi milih kerjo soro. Kan senengane tiyang benten-benten (ya tidak tahu Mbah. Banyak orang kaya tapi memilih kerja yang sulit. Kan kesukaan orang beda-beda),” sahutku.
Si Mbah diam sebentar. Iyo paling, (iya mungkin)sahut si Mbah.
2.       Tidak egois
Ketika aku datang di rumah si Mbah dia baru bangun dari tidur. Mungkin dia terbangun setelah aku memanggilinya dari luar. Rehat sebentar sekitar lima menit si Mbah bilang, “duh mari turu ijeh ngantuk. Turuo le. Istirahat (duh sudah tidur masih ngantuk. Tiduro nak. Istirahat),” kata si Mbah.
Saat aku datang kakek sedang pergi ke sawah. Datangnya sore setelah aku terbangun dari tidur. Saat aku bangun dia sedang bersih-bersih rumah dan mencangkul halaman rumahada halaman kosong yang ditanami sayuran. Setelah bangun dan cuci muka aku langsung di suruh makan. Karena semuanya sudah disiapkan aku langsung makan. Anehnya, nasi masih utuh. Ini si Mbah dari sawah kok belum makan ya. Waktu aku nawari makan, dia nyuruh aku makan duluan.
Ya seperti itulah. Mungkin dari percakapan di atas bisa ditarik kesimpulan tentang belajar dewasa. Kalau aku mengartikannya ya sebagai orang yang sudah dewasa dan matang. Terlepas dari usia mereka yang sudah tua dan mempunyai cucu aku. Begitulah menurutku. Menurutmu? Hehehehe


(09/05/2014)

Senin, 24 Februari 2014

Amplop



Pagi ini cukup melelahkan. Bangun dari tidur pinggang sudah pegal-pegal semua. Tak tahu apa sebabnya. Waktu masih terlalu pagi – sekitar pukul 06.00 – untuk beranjak dari tempat tidur. aku putuskan untuk tidur lagi.
Entah pukul berapa, dari arah luar ruangan sudah ada wanita kecil yang teriak-teriak. “Mas, mas,” kurang lebih seperti itu ucapanya. Peduli siapa. Aku acuhkan suara itu. Sampai aku melihat jam di Hp sudah pukul 08.07. Aku lupa ada kuliah pukul delapan lewat lima belas menit. Bangun pagi memang musuh (pagi? aih, ini sudah siang tauk!).
Singkatya, kuliah hari ini tak ada dosen. Brengsek, si dosen tak masuk. Gak ngerti kali yak. Aku sudah susah-susah bangun pagi hanya untuk kuliah. Effak lah. Tak apalah, aku putuskan untuk ngopi di salah satu warung yang cukup jadi langganan.
Huer,,,,,, aku sudah sampai di tujuan. Intinya aku sarapan, minum kopi, rokok an, ngobrol tentang sepeda motor teman yang dipinjam orang tak dikenal saat dia tidur, dan hal-hal yang tidak penting. Hehehehe. serampung itu, aku dan teman-teman kelas kembali ke kampus untuk kuliah pada pukul 10.30.
Sebelum berangkat pulang aku mendapat pesan dari “Raup”. Isinya kurang lebih seperti ini “mas, nangdi? digoleki Lia. penting!”. Yah, tepat banget dengan tujuan ku ke kampus – karena mereka berada di sekret.
Saat di tengah jalan menuju ruangan kuliah, aku minta diturunkan oleh teman ku.
“Kamu gak masuk?” tanya teman ku.
“Gak ngerti,” jawabku sambil tertawa.
Aku berjalan menuju sekret. di sana sudah ada Raup dan Lia. Baru masuk ke sekret si Lia sudah teriak kagak karuan. Dia bercerita mendapat amplop berisi uang dari salah satu birokrat kampus. “Huem, asik nih,” pikir ku, hehehehe. Dia bingung kagak karuan.
Lia menceritakan, saat selesai ngobrol dengan salah satu birokrat kampus, dia mendapat “salam tempel” darinya untuk dia dan Raup. Mereka sudah berusaha untuk tidak menerimannya. Tapi sang birokrat tidak menyerah. “Si .......... memberikan uangnya secara paksa. padahal udah aku tolak mas. sampai ampolpnya jatuh dan ditinggal masuk ke ruangannya. aku kan gak enak mas mau masuk lagi, karena banyak dosen dan alumni di dalam ruangan itu. Hih, pokok aku jijik mas. Apalagi banyak orang lo mas,” kata Lia. Si Raup manggut-manggut sambil tersenyum. Ya dia menguatkan omongan si Lia gitu wes.
Aku belum menemukan jawaban atas perlakuan birokrat terhadap Lia dan Raup. Apa modusnya? Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Dimana? Kapa? (hehehehe, kayak mau wawancara aja yak?)
Kemudian aku mendapat masukan dari salah satu kawan yang sekarang ada di Jakarta untuk segera mengembalikan uang itu (fuh, dowo tenan. males ngedit). Aku dan Ulum berangkat menuju rumah sang birokrat. Di sana tak bertemu dengan yang bersangkutan dan, hanya bertemu dengan istrinya saja. Hah, ya udah lah besok aja lah. Hehehehe

(20/02/2014)

Mi Ayam vs Politik



Suasana politik menyelimuti daerah Jember. Musim penghujan tak tentu. Pedagang mi ayam, cilok, bakso atau dagangan yang lainnya sibuk berjuang menjajakan dagangannya. (aih, ngomong apa. kok gak karuan).
Sore ini, 10 Februari 2014, hujan cukup deras dengan awan yang buram. Para kawan-kawan baru sekret sedang berkumpul membahas PJTD. Ruangan yang kecil dengan menampung beberapa orang saja, membuat beberapa anggota harus keluar dari ruangan. Kali ini, terpenting kawan-kawan baru berada di sekret dan “ngobrol” tentang PJTD.
Pedagang mi ayam menjajakan dagangannya di depan UKM. Dia mengeluh dengan kondisi dagangannya yang belum laku. Sampai obrolan tentang kehidupannya dia bawa dalam obrolan yang tak bertema ini.
Dia bercerita, tahun politik adalah lahan basah untuk beberapa masyarakat. “Jika teringat beberapa tahun yang lalu, Saya geli sendiri. Delapan orang yang diantaranya Saya berkunjung ke salah satu rumah calon tokoh politik. Karena di sana mendapat makan, rokok dan pastinya uang,” ucapnya tertawa.
Meski begitu, tambahnya, tidak cukup satu calon tokoh politik. Satu sampai lima orang calon tokoh politik yang di datangi dalam satu malam. “Tiap rumah mendapat uang paling tidak Rp 50.000,” katanya. Tapi, hal itu lama dia tinggalkan karena dirasa tidak baik. Dia lebih memilih dagang mi ayam dengan hasil yang halal. “Sekarang Saya sudah tidak pernah begituan (berkunjung ke calon tokoh politik, red). Mending dagang mi ayam,” tegasnya.


(20/02/2014)

Crut or Der



Aku suka padamu. Tapi aku tak punya hak atas mu. Tak ada paksaan untuk kau jawab ungkapanku. Semua tergantung padamu. Kau jawab atau pun tidak itu hakmu.


(07/02/2014)

Senin, 20 Januari 2014

Debat Arwah

Debat Arwah

“Aku ngelindur. Tahu-tahu di tempat lain,” kata-m-u.
“Bangun dan kembalilah,” kataku.
“Aku telah mati sejak kecil. Kau tau? Tinggalkan,” kata-m-u.
“Tak peduli. Peduli siapa?” kataku.
“Jangan mengharapkan apa-apa dari mayat kecil,” kata-m-u.
“Aku tak tega membiarkanmu sendiri, sepi. Ingin merawat dan me-balsem tubuh-m-u agar awet,” kataku.
“Aku lebih tidak tega membiarkanmu mencium bau busuk mayat anak kecil dan melihat ia perlahan-lahan menjadi tanah,” kata-m-u.
“Iya. Hanya ingin merasa arwah-m-u tenang dan bebas dengan jasad-m-u terjaga olehku,” kataku.
“Arwah hasil bunuh diri tidak akan merasa tenang apalagi bebas. Kau tau itu?” kata-m-u.
“Kata siapa? K-a-u selalu membantu orang dari frustrasinya. Menjaga. Memegang erat tangan agar tak lari atau nekad jatuh dari bangunan bertingkat,” kataku.
“Anak kecil ini memutuskan untuk bunuh diri karena ia tidak ingin tumbuh dengan merelakan yang lain tertusuk karena ulah tangannya. Kau tau itu?”kata-m-u.
“Tak mungkin! Sudah pasti aku kutuk k-a-u jika seperti itu,” kataku.
“Kutuk aku semaumu. Ampuni aku,”kata-m-u.
“Tidak! Jangan k-a-u ulang kata ‘kutuk’,” kataku.
“Aku tidak pernah bisa bertahan untuk sesuatu yang aku cintai. Aku tidak bisa menjaga mereka yang mencintaiku. Terkutuk sekali,” kata-m-u.
“Aku tak percaya!” kataku.
“Kebenaranku tidak pernah menjadi kebenaranmu. Aku tau,” kata-m-u.
“Tetap! Aku tak percaya,” kataku.
“Sejak kapan kau bisa menanyakan banyak hal pada arwah yang terpisah dari tubuhnya?” kata-m-u.

“Saat aku damai bersanding bersama-m-u dimimpi,” kataku.

(18/01/2014)

Rabu, 08 Januari 2014

Tragedi Toilet



Cerita. Mungkin hal ini yang harus aku lakukan untuk blog-ku. Beberapa hari aku telah meninggalkan dan meng-acuh-kannya begitu saja. Memang aku datang padanya saat aku butuh saja. Apa aku terlalu semena-mena? Apa aku terlalu tak berdaya? Apa memang aku sudah tak punya kawan lagi? Entahlah, aku hanya ingin bercerita pada Karantina Lumpur – nama blogku.
Akhir-akhir ini aku sedang dirundung masalah Karantina Lumpur. Ribet. Aku panggil kamu Tina saja ya agar tampak manis. Tapi aku takut dikata orang yang tak mampu menghadapi masalah untuk diselesaikan sendiri. Istilah cengeng, egois, bodoh, busuk, bahkan hina mudah menempel dipunggungku Tina. Tapi inilah aku. Cucu Adam yang jarang bahkan tak pernah mau bertemu dengan kakeknya sendiri. Bahkan mengingat Dia yang pernah mengajarkan lagu ‘kring bel sepeda’ padaku. Malas. Meski akhirnya aku tak dapat sifat turunan dari-Nya. Kuat.
Sudahlah, kakek sudah wafat dan tenang di alamnya. Pundak ku patah Tina. Beban ini terlalu berat untuk ku. Beban ini, beban itu, beban kamu, beban dia, beban aku, beban . . . . . . . (kamu isi sendiri yang Tina. Aku capek!) semoga dengan cerita beban yang satu ini membuat aku sedikit tenang dan kamu tidak terlalu kepikiran. Amin.
Aku menemukan anak mesum di dalam toilet kantin Tina.
“Apa?” katamu.
“Iya. Aku memergoki anak laki-laki memakai sarung orange keluar dari toilet tanpa sehelai baju,” timpalku.
Aku menceritakan kejadiannya padamu. Saat itu, aku dan ke dua kawanku sedang menyusuri malam mencari kawanku yang hilang. Tepat di depan toilet kantin kampus aku dan kawan-kawanku berniat untuk mencarinya di dalam toilet. Sedang berusaha masuk, ternyata pintu dalam keadaan terkunci. Aneh. Pintu yang rusak dan tak terkunci dan sekarang sebaliknya. Pintunya di kunci, dari tali rafia dan terikat dari dalam. Kucoba menarik pintu sekuat tenaga. Namun tak ada hasil. Kakak yang membawa korek api membakar tali rafia dan ...............
Kami menjerit sekencang-kencangnya. Di dalam sana ada sarung orange berdiri tanpa ada tuannya. Kami bertiga lari tergopoh-gopoh. Salah satu kawan yang panik menyuruh kawan untuk mencari pentungan. Memastikan sarung ber-tuan atau tidak.
Mendengar itu, dari dalam toilet keluar pria kurus memakai sarung orange tanpa memakai baju. Badanya termakan bau busuk wc, kering. Suaranya yang pelan menuju arah kami disertai tangannya mengatung minta belas kasihan. Kami menolak untuk didekati. Dia tak menggubris. Dia malah nekat untuk mendekat. Wajahnya yang pucat mendekati kami di malam yang pekat.
“Lalu?” tanyamu.
“Kami berteriak minta tolong di sekitar kami. Tapi tak ada sahutan dari arah sekitar,” jawabku.
Lelaki bersarung itu mencoba menenangkan kami. “Mas, minta maaf mas. Tolong jangan ramai-ramai. Aku manusia mas. Coba mas pegang tangan aku. Tidak usah takut mas,” katanya sambil mendekat dengan wajah mati dan tubuh kering.
Dia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Awalnya dia berniat Facebookan di kampus. Guyuran hujan membasahi birahinya. Tak kuat menahan birahi, dia melakukan gencatan senjata dan memilih toilet kantin sebagai lokasi serangannya. Sungguh darah muda.
Darah muda
Darah yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri
Walau salah tak perduli (salah teks sila benarkan sendiri J)
Sebelum dia cerita tentang asal mula gencatan senjata. Dia memperkenalkan si ceweknya untuk memastikan kalau mereka memang manusia. Aneh.
“Sebentar mas, biar cewek aku pakai baju dulu,” kata lelaki itu. Dari dalam toilet ke luar wanita berkerudung dengan beberapa kain dibopongnya menuju sudut banguna yang mata kami tak dapat menjangkaunya.
“Sial. Malam menghalangi mata menembus lekukan demi lekukan dari tubuh bugil,” batin ku.
Aneh. Kenapa ganti baju harus di luar? Mau pamer atau menjajakan tubuh bugil? Percuma saja jika malam tanpa cahaya. Aneh.
Selang beberapa menit, si cowok membawa kami bertiga untuk menemui si cewek. Awalnya dia enggan untuk melihatkan wajah ceweknya. Pintarnya, si cewek memalingkan badan dari kami (mungkin si cewek sering lihat berita kasus asusila. Dari gaya menutupi wajah, menunduk, dia lebih memilih memalingkan badan dari kamera. Meski aku tidak bawa kamera J).
Tidak puas dengan pemalingan wajah yang dilakukan. Aku meminta si cowok untuk dikenalkan pada cewek. “Tapi jangan dibilang-bilang lo mas,” pintanya. Meski berhadap-hadapan, wajahnya remang-remang (kayak kopi pangku aja remang-remang). Kawan yang membawa senter aku pinjam untuk melihat wajahnya. Alamak! Serem juga wajahnya J
Setelah puas, kami bertiga meninggalkan dua pemuda itu tanpa berkata apapun. Kalau mau kami akan minta pada mereka untuk uang tutup mulut. Tapi kami menghindarinya. Daripada uang tutup mulut, mending tutup birahi aja J maksudnya join-an J
Ah, semakin ngelantur saja. Satu yang menjadi catatan. Tidak hanya jilbab hitam yang hebat. Jilbab putih juga hebat (si cewek memakai kerudung putih J)
#cerita ini hanya fiktir belaka. Jika ada kesamaan tempat, kejadian, waktu, mohon maaf. Karena ini hanya hiburan semata
#sisi nyatanya sila saring sendiri J